Kamis, 24 Juli 2008

KEAJAIBAN FILM

TENTANG HAL-HAL REMEH-TEMEH
Oleh ENANG ROKAJAT ASURA

Ketika menonton film, sebenarnya seseorang sedang melibatkan pikiran, perasaan dan imajinasi ke dalam adegan demi adegan. Apa yang terjadi di dalamnya, masuk ke dalam kepala secara leluasa sehingga akhirnya menghadirkan theatre of mind. Dengan sifat yang menarik perhatian dan mencoba memberi informasi berupa simbol-simbol, secara utuh sebuah film merupakan media komunikasi yang efektif. Jika hal ini disadari oleh semua pihak, maka sejatinya film bukan hanya sebuah tontonan tapi semestinya menjadi tuntunan. Berkomunikasi lewat film, dengan keunggulan sebuah film lewat kekayaan bahasa gambar sudah merupakan bahasa yang kadang jauh lebih jelas dibanding bahasa verbal. Gambar-gambar yang bergerak dari perspektif angle kamera, pembentukan frame gambar dibantu nada cahaya lighting, idealnya serangkaian informasi kepada penonton disuguhkan dengan nikmat dan menarik tanpa terlalu membebani pikiran. Ketika kita melihat almarhum Sophan Sophian yang termenung di antara jajaran patung di Pasar Seni Ancol dalam film Sesal, tanpa dituntun dengan bahasa verbal, kita bisa menangkap perasaan galau Sophian (tokoh Bang Apan) dibantu suasana fisik lingkungan sebagai simbol ”rasa dalam” pelakon. Merujuk pada teori komunikasi didapat realitas bahwa komunikasi selalu ada yang tersirat dan tersurat atau mentranspormasikan aneka informasi dengan berbagai media (cara). Komunikasi, meminjam pendapat Little John, is the trasmission of information, ideal emotion, skill, etc, by the use of symbol words, picture, figures and graphics. Betapa picture (termasuk didalam rangkaian gambar film) menjadi media komunikasi yang unggul, karena picture (terlebih film) memberikan informasi tiga dimensi dengan detail. Lewat keunggulan film yang memberi informasi tiga dimensi dan gerak inilah, sebenarnya manakala dilatarbelakangi dengan kesadaran penuh yaitu ingin menjadikan film sebagai produk budaya sekaligus ingin menumbuhsuburkan sense of belonging pada produk film kita, upaya-upaya bisa dimulai dari hal-hal kecil. Dalam adegan-adegan outdoor shooting pada produksi film misalnya, sebenarnya bisa dioptimalkan promosi pariwisata dengan memanfaatkan DTW menjadi background setting cerita. Antara produser film atau sinetron dan penyelenggara DTW sebenarnya bisa terjadi kepentingan bersama dalam produksi sebuah film, promosi bagi penyelenggara DTW dan terbantunya dana bagi produser. Bisa pula dengan memanfaatkan tempat-tempat atau objek yang punya latar sejarah, sehingga dalam saat yang bersamaan tidak saja sedang menyuguhkan frame demi frame yang terjalin dalam rangkaian cerita yang menarik, tapi sebenarnya dalam waktu yang sama sedang meremind latar sejarah yang pernah dipelajari dalam buku-buku teks di sekolah-sekolah. Pada beberapa kasus, memvisualisasikan kejadian sejarah lebih efektif dibanding dalam bentuk bacaan. Bagaimana geliat mahasiswa yang bangkit melihat negerinya yang carut-marut demikian terasa mengkristal dalam adegan Gie. Masih segar dalam ingatan saya ketika itu guru PSPB (Pendidikan Sejarah Perjuangan Bangsa) salah satu format yang pernah dicoba untuk menghadirkan sejarah Indonesia secara lebih intens, dalam salah satu materi pertemuan di kelas, mewajibkan kami menonton film Pengkhianatan G30S/PKI arahan Arifin C. Noer. Dengan bekal kegemaran menonton film-film Indonesia terutama garapan sutradara Teguh Karya dan Arifin C. Noer waktu itu, saya ingat benar waktu itu, pasti akan diperoleh nilai lebih ketika menonton film Pengkhianatan G30S/PKI ini, sampai-sampai guru PSPB mewajibkannya. Dua kali antri untuk menonton pertunjukan jam 14.00 di Bandung Theatre, dua kali pula gagal karena kehabisan tiket masuk. Hari ketiga baru dapat tiket dan itu pun untuk pertunjukan jam 19.00. Rupanya mewajibkan menonton film tersebut tidak saja terjadi di SMA Negeri Ujungberung (kini SMA 24 Bandung), tempat saya menimba ilmu waktu itu, tapi juga di sekolah-sekolah lain. Sehingga pemandangan para pelajar menyerbu loket-loket pertunjukan film Pengkhianatan G30S/PKI, menjadi pemandangan yang biasa minggu-minggu saat itu. Pemandangan yang sama seringkali terjadi belakangan ini di era kebangkitan film Indonesia setelah lama mati suri. Tapi masalahnya kendati pemandangan antrian sama, saya tidak bisa memastikan apakah juga menonton film belakangan ini menjadi pengalaman pribadi yang berharga sehingga mengkristal dan menumbuhkan sikap sense of belonging remaja sekarang atau hanya sekedar acara melepas lelah bersama peer groupnya. Kemirisan ini muncul menyaksikan betapa generasi muda sekarang demikian dijejali secara membabi buta oleh film-film hantu yang khawatir hanya sekedar memperhitungkan sisi bisnisnya, bukan bertanggung jawab pada sikap bahwa film adalah produk budaya yang harus dipertanggung jawabkan untuk generasi berikutnya. Kembali kepada upaya “pemaksaan” guru PSPB agar para siswa menonton film Pengkhianatan G30S/PKI. Saat itu, terutama teman-teman yang tidak suka nonton film Indonesia, saya yakin adanya aturan wajib nonton dari guru PSPB tadi adalah sebuah pemerkosaan hak. Tapi sekarang, manakala pengalaman dan pengetahuan kehidupan makin bertambah, saya merasa phase pemaksaan itu harus dilakukan untuk menumbuhkan sense of belonging terhadap film Indonesia. Kerjasama lintas departemen ini menurut hemat saya, adalah sebuah langkah terpuji untuk bersama-sama membangun film Indonesia sebagai produk budaya. Disadari atau tidak munculnya keseragaman thema film belakangan ini yang tidak jauh berkutat dari thema hantu, adalah sebenarnya tercerabutnya kesadaran para penggiat film untuk menumbuhkan sense of belonging film Indonesia, sehingga akan menjadi produk budaya jamannya. Padahal dengan selalu membanjirnya anak-anak muda untuk antri menonton film Indonesia, sebenarnya harus muncul kerjasama lintas departemen seperti “pemaksaan” yang pernah dilakukan guru PSPB saya dulu itu. Potensinya sudah ada, kesediaan untuk menonton sudah timbul, tinggal bagaimana menciptakan sebuah film yang layak untuk menjadi rangkaian mata rantai dari sejarah perkembangan film Indonesia. Produk film yang kukuh menjadi mata rantai sejarah bangsa inilah menurut hemat saya yang akan tetap melestarikan perjalanan produksi film itu sendiri. Perjalanan yang tentu saja patut dikenang, bukan sekedar perjalanan memalukan. Dengan kejelian mata kamera yang dibimbing kekayaan batin dan konsep film sang sutradara yang matang, memberikan informasi objek pariwisata atau rangkaian mata rantai sejarah dan nilai-nilai kehidupan yang tumbuh dan berkembang di bumi yang bernama Indonesia ini, dalam film yang sedang digarapnya bisa lugas dan enak ditonton andai saja pihak-pihak yang bekerjasama dari lintas departemen tadi memberi keleluasaan kepada sutradara dan awak kreatif film untuk membentuk wajah produknya sesuai dengan kehendak cerita. Karena, satu hal paling prinsipil dan harus disadari betul oleh pihak-pihak dari lintas departemen tadi, dimata sutradara suasana fisik berupa pusat keramaian, suasana alam (objek wisata), keindahan seni gerak dan seni diam yang akan dijadikan background pengisi frame gambar adalah baju untuk mengantar alur cerita sekaligus simbol perasaan pelakon. Bagaimanapun indah dan mahal DTW yang hendak dipromosikan pada film misalnya, di mata sutradara nilainya tetap sebagai background semata. Pada beberapa film Indonesia, pemaparan terakhir tadi memang tampil cantik, sehingga tidak saja melahirkan rasa cinta tanah air lewat kekayaan alam sehingga melahirkan sikap rasa memiliki, tapi juga menjadikan film itu sendiri satu mata rantai yang tidak tercerabut dari rangkaian sejarah film Indonesia. Roman atau cerita dengan setting masa kini memang biasannya longgar, tapi tidak demikian dengan cerita masa lampau misal Saur Sepuh, Gema Kampus ’66, Doea Tanda Mata dan film lain yang punya keeratan dengan masa lampu. Bagaimana dingin dan mencekamnya jam malam pada film Gie, tidak bias digantikan dengan dingin dan mencekamnya malam di tempat manapun. Tapi baik latar objek wisata maupun latar sejarah, akan sama-sama membangkit rasa sense of belonging pada masyarakat kita, manakala rangkaian kejadian itu tadi mampu menumbuhkan rasa penasaran, rasa ingin tahu dan ada kedekatan secara emosional. Manakala phase-phase ini telah terlewati dengan mulus, menurut hemat saya, merupakan langkah cerdas dan tepat guna dalam kaitannya dengan pelestarian film Indonesia. Kendati kurang mutu dari sisi kreativitas cerita, Hantu Terowongan Cassablanca, bagi masyarakat Jakarta tetap saja menjadikan produk itu menumbuhkan rasa penasaran, paling tidak karena kedekatan lokasi terowongan Cassablanca dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Jakarta. Tapi tentu saja untuk menjadikan film sebagai produk budaya dan bagian dari mata rantai perjalanan film Indonesia, titik berangkatnya jangan hanya dari titik kedekatan emosional untuk membangkitkan rasa penasaran itu. Sehingga ketika bicara masalah pelestarian film Indonesia pun tidak menjadi sederhana sebatas melestarikan copy film, kemudian disimpan di gedung pusat perfilman misalnya. Tapi ketika bicara masalah pelestarian film Indonesia, maka di dalamnya harus ada upaya menjadikan film-film yang lahir sebagai bagian produk budaya dan bisa dipertanggung jawabkan secara moral kepada generasi berikutnya. Demikian pula ketika ingin membangkitkan sense of belonging terhadap film Indonesia sehingga masyarakat yang diwakili produk film itu menjadi bertanggung jawab terhadap rangkaian mata rantai film Indonesia, mau tidak mau diperlukan kerjasama lintas departemen, tidak hanya sebatas menemukan bakalan cerita, tapi juga untuk menemukan formula-formula bagaimana menumbuhkan rasa penasaran, menumbuhkan rasa ingin tahu dan turut serta menjadi saksi lahirnya film tersebut seperti dilakukan guru PSPB saya dalam paparan di atas. Upaya yang pernah dilakukan Direktorat Pembinaan Film Departeman Penerangan waktu itu yang melahirkan naskah “Kerikil Merah Darah” sebagai juaran untuk pertama untuk kategori drama, naskah “Si Kabayan Dan Putri Jendral” untuk kategori komedi, adalah langkah tepat untuk menemukan naskah cerita film yang memenuhi unsur kepentingan berbagai pihak. Kegiatan yang sama terus dilangsungkan sampai tahun 2000 yang melahirkan naskah “Merahnya Merah” untuk kategori cerita drama dan HAM. Tapi entah apa alasannya, naskah film-film tersebut tidak diproduksi. Padahal dari pendapat dewan juri yang diantaranya para sineas kahot dan pengamat film Indonesia, naskah cerita film tersebut bagus dari beberapa aspek dan tentu saja semestinya layak untuk diproduksi. Dalam rangkaian pencarian upaya pelestarian film Indonesia, tentu saja upaya-upaya pihak diluar produser dan penggagas film seperti itu, harus disambutg secara baik dan bergairah. Perang dengan segala aspek dan bentuknya sebagai satu sisi dari peradaban manusia, tak kalah menarik untuk direkam dan dibicarakan seperti halnya cinta. Hanya tentu saja efek psikologis antara perang dan cinta tidaklah sama, kendati pada satu sisi selalu berakses sama : membuat manusia lupa diri. Seorang (pihak) yang terlibat perang, sering lupa diri bahwa yang dihadapinya untuk dibantai itu manusia yang notabene punya rasa. Begitupun seorang yang sedang dilanda mabuk cinta sering lupa diri bahkan tak mampu mengontrol diri sedang kemana kaki melangkah. Perang dikatakan menarik dan siap direkam, ini jelas. Anak semata wayang pun yang baru tahu hitungan sampai batas sepuluh sudah tahu bagaimana mengatakan perang. Semakin menarik jika yang membicarakan itu manusia yang telah berlevel dewasa (dengan tidak memandang status sosial dan tingkat pendidikan) karena di dalamnya telah paham bagaimana meracik bumbu agar pembicaraanya kian menarik, sehingga obrolan di warung kopi pun semakin menghangat lebih hangat dari segelas kopi yang masih mengepul. Kita bisa membaca bagaimana suasana awal tahun 1991 setelah perang teluk meletus. Dari tukang terasi, pejabat tinggi hingga pengangguran, tukang becak hingga pengusaha, bahkan konglomerat hingga yang melaratpun rasanya belum komplit menu hariannya, jika saja tak dibumbui dengan kecamuk perang teluk. Bagi para sineas lebih istimewa lagi dalam menyiasati perang, baik untuk dibicarakan bahkan untuk direkam ke dalam rangkaian cerita film. Sekalipun tak jarang memerlukan modal dan kerja kreatif yang memang besar. Tapi juntrungnya, perang akan ada apa-apanya setelah dibidani para sineas itu. Terkadang untuk mengejar aksentuasi kesan dan efek psikologisnya, kejadian perang (baik dalam cerita yang utuh ataupun hanya background saja ) terlalu dibesar-besarkan dengan melupakan logika. Kita bisa menyimak Green Barret atau Hell Bridge, dua film Amerika yang terkesan cenderung menjadikan Amerika sebagai hero dalam porsi yang berlebihan. Padahal perang baik sebagai cerita yang utuh maupun hanya sebatas background cerita, tetap tidak akan kehilangan aksentuasinya kendati hanya berkutat pada satu sisi yaitu sisi humanis misalnya. Film dengan latar belakang sejarah yang berhasil menampilkan sisi humanis bisa kita pada film The Killing Field atau Naga Bonar untuk film Indonesia. Dari latar belakang cerita film Naga Bonar, kita paham pada kurun waktu mana cerita ini menggantol. Kurun waktu itu menjadi latar menarik kendati jauh dari kejadian dar-der-dor suasana perang fisik semasa revolusi, karena tetap terintegrasi dengan sisi humanis yang ingin ditampilkan dari sosok mantan copet yang jadi jendral ini. Berbeda dengan Naga Bonar Jadi 2, kendati mencoba mengintegrasikan dengan masa kekinian, tapi dalam beberapa hal kehilangan sisi humanisnya, karena terlalu banyak yang ingin disampaikan. Kita pun lantas jadi ingin bertanya–tanya, apa sebenarnya imbasan yang dikejar sebuah film yang diangkat dari kejadian perang atau membuat background kejadian perang. Ingin mengingatkan manusia pada umumnya bahwa perang itu terlalu menyakitkan untuk dikenang ? Ingin mempertegas bahwa perang selalu merugikan banyak pihak sehingga patut dicap sebagai kerja haram yang masih dilegitiminasi dengan dalih mempertahankan kehormatan ?Jika kita mau jujur, bagaimanapun bentuknya perang selalu tidak bisa bersih dari perbuatan licik. Dan ini tak jarang jadi bagian terpenting dari sebuah strategi. Dan anehnya kelicikan semacam ini jarang sekali diungkapkan dalam film perang. Ada kesan perang dilakukan bersih alias tanpa cacat dimata budaya. Bagaimana The Deer Hunter, Apocalypse Now atau Delta Force 1 yang mengambil latar belakang antara komunis Rusia dengan tentara Vietnam komunis, lalu memunculkan kekuatan Amerika yang tanpa cacat. Ketika hal ini terjadi, malah menjadi terasa janggal manakala film ini sebagai produk budaya menjadi tidak terpisahkan dari rangkaian sejarah bangsanya. Tokh, kehidupan ini tidak selalu hitam putih. Hidup malah terasa lebih banyak grey areanya. Dan sejarah peradaban manusia telah banyak membuktikannya dengan jelas. Film yang tentu saja telah melalui operasi penyusuaian, memang cukup efektif membakar semangat patriotisme suatu generasi setelah generasi tua berjibaku antara darah dan darah hingga nafas penghabisan. Riwayat hidup Dit Pron saksi hidup proses penjagalan 3 juta rakyat Kamboja yang kemudian dibikin film atau sinetron The Killing Field yang cukup meraih sukses di pasaran, sedikit banyak akan membakar generasi muda Kamboja. Bagaimana sebenarnya sebuah peperangan terjadi bagi masyarakat Jawa Barat khususnya, umumnya bangsa Indonesia tentu sekalipun baru membaca dari buku–buku paket tentang kepahlawanan Mohammad Toha seorang pemuda Dayeuh Kolot yang berjibaku menghancurkan gudang mesiu, akan dapat membayangkan bagaimana jiwa patriot anak Dayeuh Kolot itu. Dan tentu kesan itu akan lebih mendalam manakala telah dapat menonton rangkaian ceritanya dipita seluloid arahan sutradara Usmar Ismail almarhum. Sayang bagi kebanyakan generasi muda tak ada lagi kesempatan untuk menontonnya jika pihak TVRI Pusat dan Pusat Dokumentasi tidak menganggap perlu menayangkan ulang. Tentu saja imbasan psikologis tak akan terasa lagi dari Film Toha Pahlawan Bandung Selatan ini. Padahal lagi-lagi rangkaian cerita dalam film seperti itu yang akan menumbuhkan sense of belonging terhadap film Indonesia, karena paling tidak memenuhi aspek-aspek, sedikitnya aspek menumbuhkan rasa penasaran dan sisi humanis berlatar belakang sejarah di Indonesia. Menayangkan ulang secara kontinyu sebuah film sehingga dapat ditonton oleh lebih banyak lagi masyarakat, salah upaya jempolan untuk melestarikan perjalanan film Indonesia. Langkah ini telah dilakukan belakangan ini manakala televisi swasta saling berlomba untuk menayangkan film-film Indonesia yang sukses di bioskop, kendati dengan motivasi yang berbeda. Janur Kuning arahan Alam Surawijaya almarhum bisa memberi efek yang pekat kepada mentalitas generasi muda. Bagaimana seorang Panglima Angkatan Bersenjata yang bernama Jendral Soedirman masih tetap turut maju ke barisan pertempuran dan melakukan long march kendati harus ditandu. Pada film ini disadari atau tidak ada kesan melambungkan kepahlawan seseorang secara berlebihan. Begitupun dengan November 1928 atau Pahlawan Gua Selarong yang keduanya patut disyukuri bisa ditayangkan TVRI Pusat, akan memberi pengalaman yang baik pada generasi muda dari perjalanan nenek moyangnya itu. Tapi bagaimana dengan film perang yang mengisyaratkan kecacatan-kecacatan di dalamnya semacam Casualties Of War yang cukup gamang merefleksikan kecacatan tentara Amerika yang memperkosa gadis-gadis Vietnam ? Film semacam ini tentu saja akan memberi dampak lain pada penonton. Boleh jadi akan menyulut kebencian orang Vietnam, selanjutnya semakin membenci tentara Amerika. Kasus seperti ini pada gilirannya nanti akan meletuskan perang baru. Kendatipun tidak dalam bentuk perang secara fisik, dengan adu kekuatan militer. Setidaknya akan melanggengkan perang mental dan isme-isme lain. Kita bisa membaca bagaimana sampai kini Kuba masih tetap alergi pada sesuatu yang berbau Amerika, sebagai buntut dan luka Fidel Castro setelah pertikaian frontal April 1961 antara kedua negara tersebut. ***